Cara Membuat Foto Jadi Kartun

Posted by Unknown 2 komentar
Cara membuat Foto jadi kartun dengan Corel Draw X6
1. Pertama buka dulu file yang akan dibuatkan vektor. Klik file - import dan tentukan ukurannya

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

Agar dalam pembuatan tidak berubah posisi gambarnya, lock dulu gambarnya klik kanan pilih lock object

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

2. Buat layer baru untuk pembuatan tracingnya, letak layer berada di sebelah kanan bawah

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

Beri nama layernya dengan bagian muka, karena di layer ini akan d buat bagian muka yaitu mata, alis, hidung dan bibir

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

3. Sekarang kita mulai dengan membuat dulu mata, dalam tracingnya saya menggunakan B-Spline. Terserah kalian mau pakai apa mana yang lebih mudah dalam pembuatan tracingnya pakai Freehand, Bazier atau Pen

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

- Buat dulu keseluruhan mata, lalu buat bagian dalamnya

Cara Membuat Foto Jadi KartunCara Membuat Foto Jadi Kartun

- Buat lingkaran bola mata, agar bulatannya bagus pakaulah elips tool, sambil memijit tombol Alt

Cara Membuat Foto Jadi KartunCara Membuat Foto Jadi Kartun

- Hapuslah lingkaran yang keluar dari bagian mata dengan cara. klik pada garis nomor 1, kemudian garis nomor 2, sebelum meng klik garis nomor 2 tekau dulu shitf, lalu klik garis bulat yang keluar atau garis nomor 2.

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

- Sesudah itu klik intersect yang berada di sebelah kanan atas atau dibawah help

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

- Klik kanan pada garis nomor 1, lalu pilih delete

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

- Buatlah bagian mata yang satunya lagi, lalu warnai matanya

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

Untuk lebih jelasnya baca dulu tutorialnya disini

3. buat bagian hidung seperti gambar dibawah ini

Cara Membuat Foto Jadi KartunCara Membuat Foto Jadi Kartun

4. Sekarang kita lanjut dalam pembuatan bibirnya
- buat dulu keseluruhan bibir, kemudian buat bagian dalam bibir lalu warnai hingga seperti ini. Untuk tutorial lebih jelasnya lihat saja disini

 Cara Membuat Foto Jadi Kartun


5. Lanjut buat kulit dan rambuatnya. Agar memudahkan, buat dulu layer baru kemudian ganti namanya dengan kulit dan rambut. Pembuatan layer bisa di lihat pada point nomor 2. Lalu  letakan di bawah layer bagian muka, caranya tinggal drag layer bagian muka ke atas layer kulit dan rambut hingga seperti ini

Cara Membuat Foto Jadi Kartun



6. Buatlah bagian rambut nya dulu, dan ingat pembuatan rambut ini ada pada layer kulit dan rambut, untuk lebih jelasnya dalam pembuat rambut bisa di lihat disini. Buat bagian kulitnya hingga menjadi seperti ini


Cara Membuat Foto Jadi KartunCara Membuat Foto Jadi Kartun

- Untuk pewarnaan kulitnya, kalu anda sulit membedakan warna terang dan gelap bisa menggunakan poterize. Caranya klik gambar asli, agar bisa d edit unlock dulu gambarnya. Pilih Effects – Transform – Posterize. Atur levelnya sehingga ada perbedaan warna gelap dan terang, disini menggunakan level  7

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

dan hasilnya seperti dibawah ini

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

7. Kemudian buatlah bagian warna terang dan gelapnya

Cara Membuat Foto Jadi Kartun

warnai kulit seperti gambar di bawah ini. Untuk pallet warna kulit tinggal download disini
hingga hasilnya seperti dibawah ini

Cara Membuat Foto Jadi Kartun
Demikian tutorialnya semoga bermanfaat.
Apabila ada pertanyaan tinggalkan pesan



Baca Selengkapnya ....

Kesenian di Garut

Posted by Unknown 0 komentar
Daftar Kesenian di Garut

Debus Garut
Debus adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat Jawa Barat yang terdapat di daerah Pameungpeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira-kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama Islam. Pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama Islam disebut Mama Ajengan. Readmore

Kesenian Lais Garut
Kesenian Lais diambil dari nama seseorang yang sangat terampil dalam memanjat pohon kelapa yang bernama Laisan, yang sehari-hari dipanggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yang ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman. Readmore
Surak Ibra merupakan kesenian asli Kabupaten Garut, tepatnya di Kampung Sindang Sari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja. Tujuan dari kesenian Surak Ibra adalah untuk menjalin persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakat. Surak Ibra pada awalnya dikenal oleh masyarakat Garut sebagai seni Boyongan atau Boboyongan yang menampilkan tokoh masyarakat bernama Pak Ibra. Readmore

Kesenian Bangklung Garut 
Seni Bangklung merupakan perpaduan antara Seni Terbang dengan Seni Angklung. Dari Seni Terebang diambil kata " bang" dan dari Seni Angklung diambil kata "klung". Nama Seni Bangklung ini di cetuskan oleh Bapak R. Rukasa Kartaatmadja, Kasi Kebudayaan Kabupaten Garut. Para penggarap Seni Terebang dan Seni Angklung juga masyarakat pendukungnya setuju dan menerima dengan senang hati. Readmore
Jika Subang memiliki kesenian Sisingaan, garut juga memiliki kesenian yang tak kalah menarik yaitu Dodombaan. Garut memang sangat identik dan terkenal dengan hewan khas nya yaitu domba garut, Domba garut memang sangat terkenal karena kualitasnya yang baik dan memiliki tubuh yang kekar. Readmore
Kesenian tradisional BADENG diciptakan pada tahun 1800 yaitu di jaman Para Wali, kesenian ini mula-mulanya diciptakan oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama ARFAEN NURSAEN yang berasal dari daerah Banten yang kemudian terus menetap di Kampung Sanding Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut, beliau dikenal masyarakat disana dengan sebutan LURAH ACOK. Readmore






Baca Selengkapnya ....

Kesenian Debus Garut

Posted by Unknown 0 komentar
Debus adalah salah satu jenis kesenian tradisional rakyat Jawa Barat yang terdapat di daerah Pameungpeuk Kabupaten Garut ini tercipta kira-kira di abad ke 13 oleh seorang tokoh penyebar agama Islam. Pada waktu itu di daerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran islam secara meluas. Tokoh penyebar agama Islam disebut Mama Ajengan.

Nama Ajengan berpikir dalam hatinya bagai manakah caranya untuk dapat menyebar luaskan atau mempopulerkan ajaran agama Islam karena pada waktu itu sangat sulit sekali karena banyak kepercayaan-kepercayaan dan agama lain yang dianut oleh masyarakat setempat, sedangkan ajaran agama Islam pada waktu itu masih belum dipahami dan dimengerti maknanya.

Pada tengah malam bulan purnama si Mama Ajengan mengumpulkan para santrinya untuk bersama-sama menciptakan sambil dengan belajar menabuh seperangkat alat-alat yang terbuat dari pohon pinang dan kulit kambing sehingga dapat mengeluarkan bunyi dengan irama yang sangat unik sekali yang kemudian kesenian tersebut dinamakan Debus. Dengan cara menyajikan kesenian ini, diharapkan dapat menarik masa yang banyak.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dalam menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran agamanya nanti dan mungkin akan banyak rintangan - rintangannya maka disamping belajar kelihaian menabuh alat-alatnya diajarkannya pula ilmu-ilmu kebatinan baik rohani maupun jasmani dipelajarinya pula ilmu - ilmu kekebalan/kekuatan dalam dirinya masing-masing umpamanya tahan pukulan benda-benda keras seperti batu bata , kayu, kebal terhadap golok-golok tajam dsb. Menjalani dan mendalami berbagai ilmu - ilmu kebatinan tersebut untuk menjaga apabila terjadi dikemudian hari sewaktu mereka mempopulerkan ajaran agamanya.

Didalam rangka mempertunjukan kesenian Debus tersebut Mama Ajengan dan para santrinya yang telah mahir dan dibekali oleh ilmu-ilmunya masuk, keluar kampung bahkan ke berbagai kota mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat umaro tua muda, laki-laki perempuan sambil memasukkan pengaruh ajaran agamanya lewat kesenian yang dipertunjukannya itu dengan membawakan lagu-lagu solawatan dan berjanji yang mengambil dari kitab suci Al-Quran yang isinya mengajak masyarakat banyak untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama Islam.

Demikianlah yang dilakukan setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan oleh Mama Ajengan dengan para santrinya dalam rangka mempopulerkan ajaran agama Islam lewat kesenian Debus sehingga berhasil meningkatkan para pengikutnya hampir di seluruh daerah dengan didirikannya pesantren-pesantren, mesjid-mesjid/surau untuk menampung pengikutnya.

Sampai sekarang secara turun-temurun kesenian Debus masih dipergunakan sebagai media untuk menghibur para tamu yang datang ke daerah tersebut disamping itu sering disajikan pada acara hajatan (kenduri) umpamanya hajat khitanan, hajat perkawinan atau upacara hari besar Umat Islam. Yang sangat unik, sampai sekarang masih diperingati tiap terang bulan purnama tanggal 14 oleh keturunan Mama Ajengan.

Baca Selengkapnya ....

Kesenian Lais Garut

Posted by Unknown 1 komentar
Kesenian Lais diambil dari nama seseorang yang sangat terampil dalam memanjat pohon kelapa yang bernama Laisan, yang sehari-hari dipanggil Pak Lais. Lais ini sudah dikenal sejak zaman Penjajahan Belanda. Tempatnya di Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening. Atraksi yang ditontonkan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman. 

Kesenian lais merupakan kesenian tradisional yang memperlihatkan ketangkasan pemainnya. Kesenian ini mirip akrobat yang ditampilkan dalam acara sirkus. Orang yang mengaksikan bisa dibuat berdebar-debar karena pemain lais membuat penonton terpesona. Cara Pak Lais memanjat kelapa sangat berbeda dengan yang dilakukan kebanyakan orang. la cukup memanjat sekali saja untuk mengambil kelapa di beberapa pohon.

Caranya, setelah memanjat clan mengambil kelapa dari satu pohon, ia tidak langsung turun. Tetapi ia akan mencari pohon terdekat clan menjangkau pelepahnya untuk kemudian bergelayun pindah ke pohon lain. Demikianlah seterusnya. la akan berpindah-pindah dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya dengan cara bergelayun melalui pelepahnya. 

Karena keahliannya itu, la sering dipanggil untuk diminta memetik kelepa oleh orang-orang sekampung. Caranya yang unik dalam memetik kelapa akhirnya sering menjadi tontonan masyarakat. Jika ia diminta memetik kelapa, orang suka berbondong-bondong menontonnya, terutama anak-anak. Terkadang, orang yang menonton tidak hanyak bersorak sorai, tetapi membunyikan berbagai tabuhan sambil menari-nari.
Atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat, ketangkasan Pa Lais kemudian dimodifikasi dalam bentuk lain dan ditampilkan dalam berbagai acara hiburan. Sebagai pengganti pohon kelapa, dipancangkanlah dua batang bambu setinggi ± 12 – 13 meter, dengan jarakrenggang sekitar 6 meter. Pada ujung kedua batang bambu An dipasang tali atau tambang besar untuk Pak Lais mempertontonkan ketangkasannya. Sementara untuk menyemarakan acara tersebut, disajikan berbagai tabuhan seperti dogdog, terompet, kendang, dan kempul. Selain itu, ditampilkan pula seorang pelawak yang berdialog langsung dengan pemain lais. 

Dalam perkembangannya, kesenian ini ternyata disukai masyarakat. Banyak orang yang sengaja mengundang grup kesenian lais untuk berbagai acara hiburan. Bahkan kesenian ini sempat diundang oleh masyarakat di luar Garut, seperti ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Salah satu grup kesenian lais yang sampai sekarang masih hidup berasal dari Desa Cisayad, Kecamatan Cibatu, Garut. Dalam mempertunjukkan lais, grup ini mengiringinya dengan kesenian dogdog atau kendang penca. Mula-mula ditampilkan reog atau lawakan. Baru kemudian pemain lais naik ke atas bambu dan melakukan berbagai atraksi di atas tambang bertelungkup, berputar, tiduran, jungkir balik, berjalan dengan satu tangan, atau turun dari atas bambu dengan kepala di bawah.

Baca Selengkapnya ....

Kesnian Surak Ibra Garut

Posted by Unknown 0 komentar
Surak Ibra merupakan kesenian asli Kabupaten Garut, tepatnya di Kampung Sindang Sari, Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja. Tujuan dari kesenian Surak Ibra adalah untuk menjalin persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakat. Surak Ibra pada awalnya dikenal oleh masyarakat Garut sebagai seni Boyongan atau Boboyongan yang menampilkan tokoh masyarakat bernama Pak Ibra. Adapun Pak Ibra sendiri adalah seorang pendekar silat yang memiliki kharisma di Garut. Kesenian Boboyongan yan turut menampilkan Pak Ibra, membuat masyarakat mengenal Boboyongan sebagai Surak Ibra. Konon hal tersebut dilakukan sebagai penghormatan kepada Bapak Ibra.
Uniknya, Surak Ibra, atau kesenian sejenis belum ditemukan di daerah lain. Surak Ibra muncul dari tahun 1910, berawal dari seorang tokoh masyarakat bernama Bapak Eson yang mengembangkan kesenian Boboyongan. Maka, oleh masyarakat pun disebut sebagai Surak Eson. Setelah sepeninggal Bapak Eson, Surak Eson pun tidak popular lagi dan masyarakat kembali menyebut Boboyongan sebagai Surak Ibra. Adapun pada 30 Mei 1910 di kasepuhan Cinunuk terbentuk organisasi bernama Himpunan Dalem Emas (HDE) yang turut serta melestarikan Surak Ibra. Namun organisasi ini bubar pada 1948, dengan mempertimbangkan bahwa Kesenian ini milik Negara, maka sejak 1948 pengelolaan Surak Ibra dilanjutkan aparat desa.
Pada masa lalu, mungkin di masa Hindia-Belanda, Surak Ibra dipertunjukkan pada pesta-pesta di Garut yang biasa dikenal sebagai Pesta Raja. Pada saat itu para Bupati Garut mengadakan hajatan. Dalam perkembangannya Surak Ibra sering ditampilkan dalam hari-hari besar seperti; Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kesenian ini berkembang di Desa Cinunuk, Garut, dimana banyak masyarakat berziarah ke makam Cinunuk.
Dalam perkembangan selanjutnya, dari perkembangan Surak Ibra, dewasa ini Bapak Amoh menjadi dikenal sebagai tokoh pewaris Surak Ibra. Di dalam pelbagai kegiatan, Bapak Amoh selalu memimpin Surak Ibra dari Garut dan dipercayai masyarakat pendukung Surak Ibra sebagai sesepuh. Surak Ibra dewasa ini telah menjadi seni pertunjukan khas Garut, selain tak ada di daerah lain, juga memiliki sifat fleksibel sebagai potensi seni kemas yang kolosal, dan telah dibuktikan ketika diundang dalam Pesta Seni ITB tahun 2000, dengan mengusung patung Ganeca oleh puluhan penari Surak Ibra, yang pertunjukkannya sempat memukau penonton Pesta Seni pada waktu itu.

Baca Selengkapnya ....

Kesenian Bangklung Garut

Posted by Unknown 1 komentar

Seni Bangklung merupakan perpaduan antara Seni Terbang dengan Seni Angklung. Dari Seni Terebang diambil kata " bang" dan dari Seni Angklung diambil kata "klung". Nama Seni Bangklung ini di cetuskan oleh Bapak R. Rukasa Kartaatmadja, Kasi Kebudayaan Kabupaten Garut. Para penggarap Seni Terebang dan Seni Angklung juga masyarakat pendukungnya setuju dan menerima dengan senang hati.

Awal pertumbuhan Seni Bangklung yaitu di Kampung Babakan Garut Desa Cisero Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Karena mayoritas penduduknya beragama Islam maka tidak akan lepas dari pengaruh Kebudayaan Islam. Mereka menghibur dirinya dengan melantunkan Shalawat Nabi dengan di iringi tabuhan Terebang. Bahkan para Pemuka Agama Islam di sana menggunakan Terebang sebagai media untuk menyebarkan Dakwah Islamnya. Pada saat itu ada dua rombongan Seni Terebang yaitu : Seni Terebang pimpinan H. Ma'sum dam Seni Terebang pimpinan Aki Majusik.

Waditra yang di gunakan terdiri dari
·         Terebang ke-I disebut Kempring yang berfungsi sebagai Pengatur Tempo
·         Terebang ke-II di sebut Tempas dan fungsinya yaitu sebagai Pengiring Kempring
·         Terebang ke-Ill di sebut Bangsing yaitu sebagai Kempui (Goong Kecil)
·         Terebang ke-IV di sebut Indung sebagai Goong
·         Terebang ke-V di sebut Anak       fungsinya yaitu sebagai Juru Lagu (Seperti halnya Kendang pada perangkat Gamelan lain).

Perkembangan Terebang ini terus di perbaharui dan di tata rapi sehingga terbentuklah Seni Terebang lain yang di sebut Nerebang atau Nyalawat yang berasal dari kata Shalawat Ncbi. Lagu-lagu yang di sajikan kebanyakan berbahasa Arab yang bersumber ari Kitab Barjanjij yang berisikan Puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Lama kelamaan terjadi perubahan pada Seni Terebang ini yaitu para penggarapnya menambahkan waditra lain berupa Angklung yang terdiri dari:
·         Empat buah Angklung Ambruk yang berfungsi sebagai pengikut Angklung Roel
·         Empat buah Angklung Roel yang fungsinya sebagai Juru Lagu
·         Satu buah Angklung Engklok       yaitu sebagai pengisi kekosongan tabuhan dari Angklung Ambruk dan Angkluk Roel
·         Satu buah Tarompet sebagai Melodi

Tokoh Angklung Badud yaitu Aki Muntasik dan Aki Mausurpi serta tokoh Terebang yaitu H. Ma'sum dan Aki Majusik berembuk dan akhirnya sepakat bahwa antara Seni Angklung dan Seni Terebang di satukan dan Akhirnya terbentuklah Seni Bangklung ini.

Selain menyajikan lagu-lagu yang bernafaskan ke Islaman, Seni Bangklung juga menyajikan lagu­lagu yang berbahasa Sunda seperti Soleang,. Anjrag, Buncis dan Tokecang. Dalam pertunjukkannya pun di sertakan tarian yang mana gerak tariannya sangat sederhana yaitu menggambarkan perilaku masyarakat tani ketika mengolah sawahnya di pedesaan.

Dari tarian tersebut timbulah bentuk Seni yang lain yang di sebut Seni Yami Rudat. Selain lagu yang syiar-syiarnya merupakan Shalawat Nabi ada juga yang berupa sindiran-sindiran tentang situasi yang terjadi pada saat itu. Hal tersebut merupakan daya tarik bagai para pendukungnya sehingga Seni Bangklung semakin di gemari oleh para penonton.

Busana yang di pakai oleh para pemain Bangklung yaitu Penabuh Terebang dan Angklung Badud mengenakan Baju Kampret, Celana Sontog dan Totopong. Para penari pun btrpakaian sama hanya berbeda wama, ini di maksudkan untuk membedakan pemberian tugas yang diperankannya.

Jumlah pemain Bangklung yaitu 20 orang yang terdiri dari:
Ø  5 orang Penabuh Terebang
Ø  7 orang pemain Angklung Badud
Ø  8 orang sebagai Penari Yami Rudat

Dari sekian banyak pemain Bangklung, satu orang di antara mereka menjadi pimpinan rombongan Bangklung dan biasanya di pilih yan paling tua di antara mereka.

Baca Selengkapnya ....